Hari senin kemarin tepatnya tanggal 18 juli, kami beberapa mahasiswa yang sudah bosan dengan kehidupam kota dan kegiatan perkuliahan, pergi berangkat berlibur ke jogjakarta, tempat plesiran impian bagi beberapa mahasiswa.

pagi pagi sekali saya sudah bersiap buat pergi. Menjelang jam lima pagi imam teman saya datang ke rumah dan kita langsung berangkat ke stasiun. Sebelum sampai stasiun kita memutuskan untuk mampir sebentar di RS husada utama untuk memjemput seorang dari teman kita. Sesampainya di stasiun, tidak lama kemudian datang satu kawan terahir seperjalanan kita yaitu dio. Dengan tekad setebal baja, dan duit setipis iman, kita mantap memesan tiket EKONOMI seharga Rp24.000 tujuan jogja, dan bersiap memulai perjalan kita.

Saat saya menunggu kreta datang, perasaan saya mulai was was dalam hati saya bertanya tanya “ntar dapet duduk ga ya? Bisa gempor kaki kalo ga dapet”. Dan pahlawan besi yang kita tunggu, kereta api pasundan jurusan surabaya – bandung ahirnya datang juga. Mengambil ancang ancang bak seorang pelari saya dan rekan rekan saya mulai mencari gerbong nomor dua, sesuai dengan tulisan yang ada di tiket kita. Senggol kanan, senggol kiri kita masuk dengan lincah bak angkot lepas dari terminal, kita segera mencari tempat duduk, dan kehawatiran saya tadi terjawab sudah. Kita mendapat kursi paling ujung, dan saya duduk dekat jendela.

Tak perlu lama menunggu kereta kita mulai bergerak, dan mulai membawa kita ke tujuan kita, jogja. Udara pagi yang masih segar masuk lewat atas jendela di samping tempat duduk saya dan membuat perjalanan semakin weenaaakk. Stasiun demi stasiun mulai kami lewati, dan pedagang asongan pun mulai mengeluarkan jurus jurus mereka “yang pecel.. yang pecel.. yang mijon.. yang mijon(ejaan sebenarnya mizone)” satu dua orang menjadi korban rayuan pecel dan mijon mereka.

Kereta terus berjalan, tak terasa kita sudah mulai masuk ke daerah jawa tengah, dan hari semakin terik. Panas matahari semakin menjadi jadi. Di tengah kesabaran kita menahan panasnya matahari, tiba tiba kereta berhenti di stasiun kecil di Solo, sebelum stasiun balapan. Dari jauh sayup sayup terdengar suara “kereta pasundan tujuan jogja bandung dari surabaya berhenti di jalur tiga untuk perbaikan” . cukup lama kami menunggu di sana, menerka nerka apa sebenarnya yang di maksud dengan “perbaikan”. Berkali kali kita melihat lokomotif kita maju mundur bawa gerbong, dan ternyata yang di maksud dengak “perbaikan” adalah penambahan satu gerbong di belakang. Setelah gerbong tertancap, pak masinispun juga segera tancap gas buat melanjutkan perjalanan.

tuuut… tuuuut… gujes.. gujes… (suara kereta api)

ga lama dari peristiwa di solo tersebut, kita sampai di stasiun lempuyangan jogja. Sampai disana kita istirahat sebentar, dan sekaligus teman teman cari mushola buat ibadah. Karena saya anak muda yang kreatif saya berinisiatif buat tanya bapak bapak kemana jalan buat ke malioboro. Dengan cepat bapak itu menjawab pertanyaan saya, dengan penuh konsentrasi saya mendengarkan kata kata bapak tersebut dan saya dengan tegas saya mengangguk dan menjawab “oo iya pak iya pak” (padahal saya Cuma neges, aslinya bingung sama jalan).

Karena hari sudah sangat siang sekali, sangat besar hasrat kita buat mencari tempat makan terlebih dahulu. Setelah itu, kita langsung cabut menuju malioboro. Dari depan stasiun kita mulai berangkat ke malioboro, dengan perut yang sudah terisi, kaki kita mulai melangkah dengan mantap menyusuri jalan kota jogja. Sekitar 20 menit sudah kita berjalan kaki dan ahirnya kita melihat papan jalan bertuliskan “jl malioboro”. Sambil melihat peta yang kita bawa, kita terus menyusuri jalan malioboro untuk mencari tempat penginapan. Tengok kanan tengok kiri banyak bule bule yang sedap di pandang.

Selang tak seberapa lama, ahirnya kita sampai di penginapan, harga semalam sekamarnya 105 ribu. Lumayan lah, di bagi orang empat Cuma 26 rebu doang kan tiap orangnya. Setelah menaruh barang barang di kamar, saya orang pertama yang menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri dan menghilangkan bau bau ga jelas dari kereta ekonomi tadi. Setelah semuanya membersihkan diri, ahirnya kita mulai perjalanan pertama kita.

Tujuan pertama kita adalah monumen tugu. Monumen bersejarah kota jogja ini menjadi awal petualangan kita di jogja. Sebenarnya masih terlalu sore ketika kita datang ke sana, sehingga kita belum bisa melihat lampu lampu bagus yang warna warni di sana. Tiba tiba terlintas ide di kepala teman saya imam, buat ke masjid dulu nunggu maghrib (benar benar anak sholeh).

Selesai manghriban, kita kembali ke monumen tugu lalu langsung ke malioboro. Sepanjang jalan malioboro itu, saya melihat banyak sekali yang berjualan oleh oleh khas jogja, mulai dari kaos, sampe kerajinan perak, dan tentu saja banyak bule bule yang cling cling bling bling di sana. Panjang jalan malioboro sudah kita lahab sampai habis, sekarang saatnya kita mencari tempat buat mengisi perut kita (lagi). Ahirnya warung angkringan dekat stasiun tugu lah menjadi tempat beristirahat kami. Duduk lesehan di pinggir jalan sambil menikmati sego kucing, gorengan, dan es teh manis mungkin jarang bisa kita jumpai di kota besar seperti surabaya, maklum anak kota. Setelah perut kenyang dan kaki sudah gempor, kita kembali ke penginapan buat beristirahat.

Ketika mata belum rela untuk di buka, saya harus terbangun dan bersiap untuk petualangan selanjutnya hari itu. Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi kunaik lagi… ke atas tempat tidurku.
*bagian paling SKIP

Jam menunjukkan pukul delapan kurang dua puluh menit, kita pun bergegas pergi ke stasiun tugu untuk memesan tiket pulang. Petualangan pun di mulai kembali. Target pertama kita adalah datang ke Benteng Vredeburg, benteng belanda yang satu ini cukup besar, namun tidak terlalu besar (Menunjukkan bahwa penulis tidak konsisten). Melihat lihat bangunan benteng tersebut dan melihat diorama diorama di dalamnya dan tentu saja tidak lupa saya dan seorang teman saya (baca rifqi) mengambil foto di sana ALLRIGHT!

Selesai kita berputar putar di dalam benteng tersebut kita pun melanjutkan petualangan kita ke pasar beringharjo untuk membeli sarapan (actualy it was a launch okay), dan ketika sarapan itu juga pertama kalinya saya makan sate dengan gubis dan tomat, mungkin pertamanya tampak aneh dan tak bersahabat, tapi begitu di coba, beuh.. sadis mameen rasanya.. wenaaaak tanteee!!

Lepas dari jeratan sate yang begitu sadis menyiksa lidah saya, kami langsung menuju daerah kraton dan sekitarnya. Melewati tempat tempat yang biasanya di buat syuting FTV di SCTV, mata saya tidak hentinya lirik sana lirik sini, mencari siapa tau ada artis yang lagi syuting dan kita bisa numpang ngeksis di kamera (menunjukkan bahwa penulis ini norak).ahirnya kita sampai juga di masjid keraton, sampai di sana saya copot sepatu, taruh tas, dan langsung tengkurap (menunjukkan betapa lelahnya si penulis).

Lepas dari waktu duhur, dan jam sudah menunjukkan pukul 12.30, kita lanjutkan merjalanan ke museum affandi, tapi sebelumnya kita harus berjalan ke koridor trans jogja yang ada di depan gedung gede, ato biasa di sebut istana kepresidenan. Setelah membeli tiket seharga 3000 rupiah ini, kita bisa menuju ke mana saja tempat di jogja, hanya dengan sekali bayar (meskipun oper bis) so, tunggu apa lagi? Untuk menuju museum affandi kita perlu oper bis trans jogja, dari trayek 1A turun di SGM, oper ke 4B, setelah itu turun di koridor UIN. Perjalanan pun kita lanjutkan lagi dengan berjalan kaki. Dengan stamina yang sudah menurun, dan beban ransel yang beratnya sekitar 5 sampai 10 kg, membuat saya dan rifqi jadi seperti onta, dikit dikit minum.

Setelah berjalan sekitar 15 menitan, kita sudah sampai di museum affandi. Museum yang sekaligus rumah alm affandi dulunya ini memiliki bentuk yang sanyat unik, atap rumahnya seperti daun, unik sekali. Di sana banyak koleksi lukisan affandi dan mobil pribadinya. Tidak semua lukisan di jual, namun ada beberapa yang di jual dengan harga fantastis!
Hari sudah menjelang sore, dan kitapun harus kembali melanjutkan perburuan kita yang selanjutnya, yaitu oleh oleh dan tentu saja makan. Kita pun kembali ke daerah malioboro untuk mencari makan, tidak lama kita berjalan, ahirnya kita menemukan bakul sate 5000 rupiah 10 tusuk plus satu lontong, tak perlu berlama lama, kantong mahasiswa kami yang sudah mulai mengering ini, langsung menyetujuinya.

Selesai makan sate kita lanjut ke daerah pathok, buat cari oleh oleh bakpia yang sudah sedari lama di pesan sama orang rumah. Ga perlu waktu lama buat memilih bakpia tersebut, karena di mata saya semuanya yang ada di situ ENAK! Setelah kita mendapat beberapa bungkus bakpia pesanan orang rumah, kita melanjutkan mencari souvenir kota jogja di malioboro. Sejauh mata memandang, saya melihat seseorang melukis dengan cat arcliric di atas keramik, saya langsung tertarik dan kemudian menghampiri pelukis tersebut dan mulai merayu bapaknya supaya ngasih harga murah, ahirnya benar saja, saya mendapatkan harga murah.

Belum puas dengan lukisan itu, saya kembali mencari oleh oleh lagi, kali ini sasaranya adalah kerajinan dari perak. Ternyata di tempat tidak jauh dari saya berdiri, ada seorang ibu ibu yang sedang membereskan barang daganganya tanda mau pulang. Dan di sana terlihat hiasan perak yang saya inginkan. Saya langsung menghampiri dan langsung mngeluarkan jurus jurus saya. Ternyata ibu tersebut tidak bisa melawan jurus saya masih sangat ampuh, kerajinan perak seharga 125 rebu bisa saya bawa pulang dengan harga 50 rebu (gue emang berbakat).

Lelah saya berkeliling keliling, saya dan teman teman saya memutuskan beristirahat di masjid DPRD setempat. Malam ini kita memang sudah tidak menyewa penginapan karena duit kita sudah pada habis. Tidak perlu waktu lama bagi kita di masjid DPRD itu, karna si penjaga masjid itu dengan sigap mengusir kita dengan alsan “masjid mau tutup mas”. Kita pun berusaha mencari tempat lagi untuk beristirahat, dan ahirnya kita berhenti di tempat angkringan kemarin. Karena sangking penasaranya, kita dengan kopi joss (kopi dengan areng panas) kita ahirnya memutuskan membeli kopi tersebut. Berharap supaya tetap terjaga, saya dan rifqi ternyata sudah tidak tahan buat tidur, dan tinggal lah dua rekan saya yang lain yang berjaga malam. Saya dan rifqi tertidur disana sampai warung angkringan tersebut mau tutup, dan lagi lagi kita tidak tau mau kemana lagi. Karna kita mahasiswa yang KREATIF, sekali lagi saya tegaskan KREATIF! bukan ga punya duit atau serba kere! Ahirnya teman saya, dio mengusulkan untuk beristirahat di masjid stasiun saja. Dengan mata yang sudah ngantuk, ransel yang berat, dan kaki yang sudah gempor sedari kemarin berjalan kaki terus kita menuju ke stasiun, dan di sana kita beristirahat sampai pagi.

Pukul setengah delapan kereta yang membawa kami pulang ke surabaya sudah mulai berergerak meninggalkan kota jogja, dan kita pun ahirnya sampai kembali di surabaya dengan selamat.

©Putratanu

Stasiun Tugu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s