Indonesia memang negara Demokrasi, sekaligus negara yang menganut trias politica. Setiap ada lembaga yang menjalankan kebijakan selalu ada lembaga yang mengawasi. Tapi menurut saya justru lembaga lembaga pengawas tersebut menjadi masalah dalam banyak hal. Saya tidak mengatakan kalau tanpa adanya lembaga pengawas itu lebih baik.

Sebenarnya menurut saya untuk membentuk pemerintahan yang baik, tidak selamanya harus di imbangi dengan banyaknya lembaga pengawas di sana sini, hal itu justru akan membuka peluang adanya korupsi yang lebih besar, deskritisasi lembaga eksekutor, biaya gaji yang lebih tinggi harus dikeluarkan, dan ketika terjadi masalah akan sulit mencari pelaku sebenarnya. Seperti halnya berita yang saya dengar hari ini tentang rancangan undang yang mengusulkan adanya lembaga pengawas KPK.

Sebenarnya KPK sudah memiliki lembaga pengawasnya sendiri, namun dianggap tidak seimbang dengan besarnya kekuasaan KPK (underbow). Dalam hal ini saya tidak memiliki tendensi untuk memihak siapa pun. KPK memang bukan lembaga yang sepenuhnya baik dalam menjalankan penyelidikan kasus kasus korupsi, namun adanya lembaga pengawas yang di usulkan oleh DPR dikhawatirkan dapat menjadi lembaga yang mendeskreditkan KPK. Lebih jauh daripada itu lembaga pengawas tersebut dapat menjadi penghambat kinerja KPK yang terus membaik dan mungkin juga lembaga tersebut bisa menjadi lembaga “kambing hitam”. Bukanya KPK sebagai lembaga pemberantas korupsi memang seharusnya tidak boleh di batasi? Memang terlihat superior, tapi dengan begitu penyelidikan yang dilakukan bisa optimal.

Sejauh ini KPK adalah lembaga yang bisa mewadahi harapan masyarakat akan pemberantasan korupsi. Seiring dengan kinerja KPK yang semakin baik, masyarakat dan LSM mulai memberikan kepercayaan terhadap KPK dan hal tersebut memang perlu dilakukan.

Media masa tentu saja berperan penting, kebebasan pers yang di berikan adalah sarana informasi bagi masyarakat. Media berperan cukup banyak dalam membentuk pola pikir masyarakat yang memiliki tingkat berfikir yang berbeda beda. Tapi sayangnya, kebebasan pers yang diberikan sering kali menjadikan media masa dan pers seperti pisau bermata dua. Daya serap masyarakat akan berita dan isu yang beredar tidak sama, dan itu sangat di pengaruhi oleh kualitas pendidikan dan lingkungan. Sebagian besar masyarakat kita belum punya (setidaknya) latar belakang pendidikan yang baik, dan media masa terus menyajikan berita dari sudut pandang negatif, memberikan tontonan yang isinya debat kusir.

Mahasiswa tentunya sangat mengerti tentang hal seperti ini, pentingnya media masa, kebebasan pers, banyaknya LSM yang membela kepentingan masyarakat, forum forum anak muda yang memberikan kesempatan pada mereka untuk bersuara, saya yakin mereka mengerti hal itu. Saya yakin mahasiswa juga akan selalu bersifat social control. Idealisme mereka sangat berperan dalam mengimbangi kebijakan kebijakan yang di ambil, dan itu memang perlu, idealisme mereka harus di bangun di saat yang tepat. Namun ada kalanya mereka harus melihat sejauh mana idealisme mereka terbentuk dan bagaimana Idealisme mereka bisa terbentuk? Sejauh mana mereka melihat kepentingan masyarakat? sejauh mana mereka bisa mendefinisikan apa yang di butuhkan masyarakat? sejauh mana mereka bisa menempatkan idealisme mereka yang begitu tinggi itu? Dan sejauh mana “apa kata orang lain” terintrepertasikan di kepala mereka.

Selagi saya masih memiliki idealisme hari ini, saya menulis disini. Semoga jika suatu saat nanti ketika saya sudah tidak punya idealisme lagi, tulisan ini bisa bermanfaat.

 ©PutraTanu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s