Mobil nasional, kenapa iya?

Indonesia adalah pangsa pasar yang menggairahkan, banyak tenaga ahli, sumber daya alam, dan masyarakatnya memiliki daya beli yang membaik. Dewasa ini indonesia mulai mencoba membangun kembali industri mobil nasional yang dulu sempat dimiliki. Berbagai macam riset, inovasi, pengembangan prototype mulai dilakukan dan hal itu melibatkan banyak pihak.

Kita ingat isu mobil nasional mulai hangat dibicarakan ketika siswa siswa SMK di Solo berhasil merakit sebuah SUV yang diberi label mobil Esemka. Hal ini menarik tentu saja, karena target utama dari sekolah kejuruan yaitu mencetak tenaga siap pakai bisa dikatakan berhasil dan apresiasi publik dan media luar biasa sekali.

Sejak saat itu di televisi atau di media masa lainya banyak pihak baik perorangan ataupun lembaga, mengatakan perlu adanya industri mobil dalam negri, banyak yang mengatakan “dulu kita pernah punya, kenapa sekarang tidak”.

Menurut saya sebenarnya bukan tidak mungkin kita punya industri otomotif sendiri, hanya saja itu kurang bijak, karena selama ini yang saya amati alasanya tidak jauh jauh dari  kemandirian teknologi, penyerapan tenaga kerja, atau kebanggaan nasional.

Semua pihak pasti mengerti untuk membangun industri baru sebesar industri otomotif, itu tidak murah, mulai dari membangun fasilitas, pengembangan teknologi, alih teknologi, investasi tenaga ahli, pembuatan prototype, pengujian prototype, trial and error, itu semuanya membutuhkan biaya yang sangat mahal dan jangka waktu yang cukup lama. Kalau alasanya hanya kebutuhan dalam negri atau kebanggaan nasional, industri yang ada sekarang sudah cukup, dan alangkah baiknya jika industri yang dikembangkan adalah industri lain seperti industri kapal dan kereta, dimana itu lebih potensial.

Tulisan ini murni pendapat subyektif saya terhadap isu yang berkembang saat ini. Saya hanya memberikan sedikit perspektif yang berbeda dari kebanyakan orang lain.

©putratanu

Iklan