me

Semua orang berkembang menjadi lebih baik dan tidak menutup kemungkinan kita mengalami stagnasi. Belajar adalah cara terbaik untuk dapat menerima perubahan.

Iklan

Kompetisi dan Persaingan Dalam Pendidikan

Saya teringat tentang selebaran yang saya baca ketika hari pendidikan Nasional tahun lalu. Selebaran yang saya terima dari seorang teman lama, sekaligus penulisnya.

Menanggapi perihal tentang pendidikan di Indonesia dewasa ini, saya ingin sekali menuliskan pandangan saya sendiri tentang pendidikan sekarang, namun sebelumnya saya akan sedikit merangkum artikel dari teman saya tersebut, saya tidak bermaksud apa apa, hanya saja saya ingin memberikan sudut pandang yang lain.

Pertama kali saya membaca artikel tersebut, mengingatkan saya dengan kata kata dari seorang tokoh, seorang pioneer pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara dengan filosofinya “ ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani”. Artikel yang membahas tentang pendidikan itu berisi pandangan yang tidak setuju dengan sistem pendidikan saat ini. Sistem yang dianggap hanya mengutamakan kompetisi dan persaingan di segala bidang. Adanya peringkat kelas, penghargaan, dan predikat seorang juara itu dianggap warisan jaman kolonial yang tidak relevan dan tidak sesuai dengan budaya.

Di lain sisi saya punya pandangan sendiri tentang pendidikan di Indonesia sekarang, setidaknya sampai saya menulis artikel ini. Buat saya pendidikan itu tetap penting apapun alasanya. Meskipun ada banyak sekali orang di luar sana yang sukses bukan karena disiplin ilmunya. Pertama tama saya akan membahas dari sudut pandang ‘kenapa pendidikan itu penting menurut saya’. Mengacu pada undang undang Hak Asasi Anak yang mengatakan “setiap anak memiliki hak hidup lebih baik”, saya merasa pendidikan menjadi hal yang sangat penting bagi seorang anak. Dengan mereka menempuh pendidikan, baik itu pendidikan keterampilan (SMK/diploma) atau yang bersifat teoritis (SMA/S1-S3) mereka akan memiliki kesempatan lebih banyak untuk memilih profesi mereka nantinya. Dengan menanamkan pola pikir betapa pentingnya pendidikan kepada masyarakat, saya yakin akan bisa menaikkan taraf hidup mereka ke arah yang lebih positif, serta akan mengurangi angka kemiskinan.

Untuk membentuk kelompok masyarakat yang kompetitif dengan mental juara tentu saja tidak akan lepas jauh jauh dari kata ‘kompetisi dan persaingan’. Kompetisi dan persaingan itu tidak bisa dihindari bahkan harus dibentuk. Untuk menentukan seseorang itu memiliki kualitas yang baik atau tidak, kita membutuhkan tolak ukur, dan satu satunya tolak ukur yang relevan untuk di gunakan yaitu adalah nilai serta ijazah dari pendidikan formal. Kita tidak akan pernah bisa mengatakan bahwa seseorang itu pintar matematika kalau nilai ujianya selalu dapat nol, dan kita juga tidak akan bisa mengatakan kalau sesorang  itu tidak bisa fisika kalau ternyata dia pemenang Olimpiade di bidang Fisika. Nilai akademik dari pendidikan formal itu adalah penyuling, peringkat akademik adalah hasil dari penyulingan, dan juara adalah masyarakat yang kompetitif.

Dengan menciptakan suasana yang kompetitif, konsep kampus sebagai “center of exellent” akan lebih mudah di bentuk, sehingga tidak hanya akan menghasilkan mahasiswa yang inovatif, tapi juga akan memotivasi para akademisi untuk mencapai gelar Profesor di usia yang relatif muda. Dengan usia yang relatif muda, produktifitas seorang profesor akan lebih panjang. Kualitas tenaga pengajar akan menjadi lebih baik. Selain itu dengan menigkatkan kualitas dan jumlah dari mahasiswa pasca sarjana, merupakan usaha untuk menigkatkan riset dalam negri.

Kita semua punya potensi untuk menjadi yang lebih baik. Lampu bisa menyala karena memiliki potensi untuk menyala, sama halnya dengan kita, kita bisa menjadi apapun yang kita mau, karena kita punya potensi!

©putratanu

Catatan Niluh Djelantik

Catatan hari ini :

Alangkah berbahagianya jika dua insan bertemu dan saling mencintai, menjalani kehidupan dengan setia dan rasa penghargaan. Namun kadangkala rasa cinta tersebut tidaklah seimbang kadarnya antara kedua belah pihak.

Ibu saya pernah berkata, lebih baik bersama seseorang yang mencintaimu lebih daripada kamu mencintai dia, karena dengan kesabaran, ketulusan cintanya dia akan memperjuangkan untuk memenangkan cintamu. Jika saatnya tiba dan dia masih berada disampingmu, berarti dialah orangnya yang tepat menjadi pendamping hidupmu.

Kenyataan yang ada saya tidak mengindahkan kata-kata ibu dan menjalani kehidupan rumah tangga saya dengan cinta yang timpang dan bertentangan dengan philosophy hidup saya. Saya tetap memperjuangkannya karena saya percaya bahwa dengan tetap positif pasti perubahan akan terjadi.

But certain things simply won’t change.

Akhirnya saya menyerah, bukan karena kalah, namun karena saya sadar bahwa apapun yang kita lakukan untuk memperbaiki suatu keadaan, terkadang cara terbaik adalah menerima bahwa ada beberapa hal yang tak akan pernah berubah.

Saat saya menulis catatan kecil ini saya tersenyum, saya teringat pada kata-kata Ibu saya. Hari ini saya merasakan kebahagiaan yang sebenarnya, dari rasa cinta yang tulus saya rasakan datangnya dari hati dan membuat saya kembali percaya, bahwa cinta sejati itu ada

Love doesn’t have to be perfect, it’s just need to be true

Peluk sayang, Niluh.