Negarakertagama #4

(…………..)

Pulau Madura tidak dipandang negara asing. Karena sejak dahulu menjadi satu dengan Jawa. Konon
dahulu Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh. Semenjak nusantara menadah perintah
Sri Paduka, tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti. Terdorong keinginan akan menambah
kebahagiaan. Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti. Pujangga-pujangga yang lama
berkunjung di nusantara. Dilarang mengabaikan urusan negara dan mengejar untung. Seyogyanya, jika
mengemban perintah ke mana juga, harus menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat. Konon
kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata dalam perjalanan mengemban perintah Sri Baginda,
dilarang menginjak tanah sebelah barat pulau Jawa. Karena penghuninya bukan penganut ajaran Buda.
Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun dan Bali, boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan.
Bahkan menurut kabaran begawan Empu Barada, serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh.
Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, dikirim ke timur ke barat, di mana mereka sempat
melakukan persajian seperti perintah Sri Nata. Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar.
Semua negara yang tunduk setia menganut perintah. Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa.
Tapi yang membangkang, melanggar perintah dibinasakan pimpinan angkatan laut yang telah mashur
lagi berjasa. Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah nusantara. Di Sri Palatikta tempat
beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia. Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas,
girang dan lega. Wipra pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur. Sungguh
besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama. Lepas dari segala duka mengenyam hidup
penuh segala kenikmatan. Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Jenggala Kediri. Berkumpul
di istana bersama yang terampas dari negara tetangga. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah
kuasa Sri Paduka.
Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura. Semua pulau laksana daerah
pedusunan tempat menimbun bahan makanan. Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas
tak berbahaya. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling. Desa Sima di sebelah
selatan Jalagiri, di sebelah timur pura. Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara
prasetyan. Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi lima. Atau pergilah
beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati. Biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi
gunung-gunung permai.
Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu dan lingga hingga desa Bangin. Jika sampai di Jenggala,
singgah di Surabaya, terus menuju Buwun. Pada tahun 1275 Saka, Sang Prabu menuju Pajang
membawa banyak pengiring. Tahun 1276 ke Lasem, melintasi pantai samudra. Tahun 1279, ke laut
selatan menembus hutan. Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman. Tahun
1281 di Badrapada bulan tambah. Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang. Naik
kereta diiring semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi Mahamantri Agung, tanda, pendeta, pujangga,
semua para pembesar ikut serta.
Juga yang menyamar, Empu Prapanca, girang turut mengiring paduka Maharaja. Tak tersangkal girang
sang kawi, putra pujangga, juga pencinta kakawin. Dipilih Sri Paduka sebagai pembesar kebudaan
mengganti sang ayah. Semua pendeta Buda ramai membicarakan tingkah lakunya dulu. Tingkah sang
kawi waktu muda menghadap raja berkata, berdamping, tak lain. Maksudnya mengambil hati, agar
disuruh ikut beliau ke mana juga. Namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah dan
menggubah. Karya kakawin, begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut. Mula-mula
melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah. Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa,
Daluwang, Bebala di dekat Kanci.
Ratnapangkaja serta Kuti, Haji, Pangkaja memanjang bersambung-sambungan. Mandala Panjrak,
Pongglang serta Jingan. Kuwu, Hanyar letaknya di tepi jalan. Habis berkunjung pada candi pasareyan
Pancasara, menginap di Kapulungan. Selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh
dari pantai. Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya. Tetapi masih tetap
dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan,
berdesak abdi berarak. Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impit. Pedati di
muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki. Berdesak-desakan, berebut jalan dengan
binatang gajah dan kuda.

 

(…………………….)