Review KA Argo Anggrek Jakarta – Surabaya

Readers, punya rencana liburan? Pingin coba liburan naik kereta? Mungkin tulisan mengenai pengalaman saya kali ini bisa memberikan sedikit referensi mengenai KA Argo Anggrek rute Jakarta (Gambir) – Surabaya (Pasar Turi). Sedikit mengenai KA Argo Anggrek, kereta ini merupakan kereta eksekutif yang cukup terkenal dengan spesifikasi “Spesial” karena menggunakan bogie K9 buatan PT. INKA Madiun yang menurut spesifikasi teknis dari review – review yang saya baca bogie jenis ini mampu meredam guncangan lebih baik (Kata Wikipedia).

KA Argo Anggrek ini memiliki dua jadwal keberangkatan pagi dan malam baik dari Stasiun Gambir maupun Stasiun Pasar Turi, dengan harga tiket berkisar antara Rp. 450000 hingga Rp. 490000 an rupiah (harga per April 2016). Reservasi tiket kereta dapat dilakukan dengan aplikasi KAI Access melalui smarphone, kemudian bayar melalui ATM, Indomart atau Alfamart.

Kereta api yang saya tumpangi berangkat dari stasiun Jakarta Gambir pukul 09.30 pagi, dan kebetulan saya memilih seat yang berada di eksekutif 9/8A (gerbong paling belakang). Gerbong paling belakang dan kursi paling tengah selalu menjadi favorit bagi saya karena relatif tidak berisik (karena jauh dari lokomotif dan saat ada yang buka tutup pintu) biasanya pada hari weekday gerbong paling belakang kosong  -bayar satu dapet segerbong- namun kekurangan gerbong belakang adalah pada beberapa stasiun tidak mendapatkan peron tapi hanya berupa tangga biasa saja.

GMR-SBIGambar 1. Jalur kereta KA Argo Anggrek yang melewati jalur pantura.
Kereta berhenti di Stasiun Cirebon, Pekalongan, Semarang Tawang, & Surabaya Ps Turi
(Ilustrasi oleh : http://rumahkereta.com/kereta-jakarta-surabaya-via-jalur-utara/)

Karena sudah lama sekali tidak menggunakan KA Argo Anggrek (Terahir waktu SD), saya penasaran bagaimana perubahan interiornya. Rangkaian kereta saat itu terdiri dari dua macam gebong, yaitu gerbong 9 masih gerbong Anggrek yang lama sedangkan mulai dari gerbong 8 hingga kedepan sudah merupakan rangkaian baru, termasuk gerbong makannya yang terlihat masih baru sekali, kebetulan sejak dari gerbong 8 sudah kosong, jadi saya punya kesempatan untuk mencoba membandingkan kedua gerbong tersebut, jadinya ceritanya bayar satu dapet dua gerbong. Terdapat perbedaan cukup banyak dari gerbong lama dan yang baru, di gerbong baru lebih terlihat simpel (terutama pada desain tempat bagasi atas) dengan dominan warna putih jadi nampak bersih, dan di setiap jendela terdapat tirai yang berbeda dengan tirai pada gerbong lama –lihat gambar 1-. Kursi pada gerbong baru memiliki pola wooden panel pada armrest nya dan terdapat pula meja lipat didalamnya, sedangkan pada gerbong lama armrestnya seperti terbuat dari kulit mirip pada jok mobil dan saya tidak menemukan meja disana. Pada kedua jenis gerbong ini sandaran kursi dapat diatur kerebahanya, sehingga dapat menambah kenyamanan selama perjalanan. Pada gerbong baru tidak terdapat sandaran kaki seperti halnya yang terdapat pada gerbong lama namun leg-room masih tetap lega, layaknya kereta eksekutif. Kaca – kaca yang terdapat pada gerbong baru lebih bening dan bersih.

komkomGambar 2. Dokumentasi Gerbong KA Argo Anggrek
Gerbong baru (Kiri) dan Gerbong lama (Kanan)

Selama perjalanan kurang lebih sembilan jam dari Jakarta – Surabaya, terdapat beberapa hiburan yang disediakan, salah satunya adalah film dan musik. Waktu itu ada dua film yaitu Mr. Bean dan satu lagi film kolosal Hongkong. Menurut saya pribadi filmnya sudah so last year banget dan sepertinya perlu di-update dan ditambah, karena sepanjang perjalanan hanya ada dua film saja. Musik selama perjalanan tersebut menurut saya lebih parah lagi, bisa dibilang enggak banget dan cenderung alay *sorry* saran saya sebagai pengguna sebaiknya diganti, ngga perlu yang highclass seperti jazz, yang lebih common juga boleh yang penting ga alay, gelik kuping ini dengernya. Selain itu selama perjalanan anda juga dapat memesan minuman ataupun makanan berat (range harga Rp. 30000 – Rp. 45000) melalui gerbong makan yang tersedia. Saya pun sempat mencoba salah satu hidangan yaitu Nasi Goreng Parahiyangan dengan lauk ayam goreng dan telor seharga Rp. 30000, untuk menu ini saya tidak banyak berkomentar penilaian saya 4/10 menurut saya seharusnya ada effort lebih untuk makanan seharga itu.

Alasan mengapa konsumen memilih kelas eksekutif tentu saja masalah kenyamanan selama perjalanan. Lalu bagaimana dengan KA Anggrek? Jawabanya ya, memang kereta ini nyaman, bahkan lebih nyaman dibandingkan kereta eksekutif lainya yang pernah saya coba seperti KA Sancaka, KA eksekutif Surabaya – Kroya (Cilacap) yang saya lupa namanya, serta KA eksekutif Argo Wilis.

Naik kereta memang banyak cerita, begitu juga ketika naik KA Argo Anggrek. Sekedar saran, lebih baik jika mengambil kereta pagi, karena kita dapat melihat landscape yang menarik antara Pekalogan hingga Semarang Tawang. Sepanjang jalur tersebut kereta akan melewati jalur dipinggir pantai dan sawah sawah hijau dan landscape tersebut berdampingan di sisi kanan dan kiri kereta. Memang banyak sekali sawah – sawah sepanjang jalur Jakarta – Surabaya namun Landscape sawah di daerah Batang tersebut menurut saya istimewa.

Kesimpulan saya jika anda punya banyak waktu luang untuk liburan, jenis transportasi darat berupa kereta api sangat cocok untuk dipilih. Sebagai salah satu jenis transportasi umum paling “romantis”, pilihan naik kereta sangatlah pas jika travellers pergi beramai ramai bersama keluarga, teman, istri, kekasih, atau selingkuhan.

Overall sekian info, pengalaman, dan saran yang dapat saya bagi kepada Readers, semoga bisa dapat dijadikan referensi maupun sekedar bacaan ringan untuk railfans. Semoga bermanfaat.